Saturday, April 1, 2017

Hati-hati! Modus penipuan berkedok transfer e-cash!

Modus penipuan melalui dunia maya saat ini sangat beragam. Mulai dari sesederhana mama minta pulsa, undian berhadiah, dan saat ini mulai merambah modus baru, e-cash.
Seperti kita ketahui bersama, perkembangan jaman benar-benar membuat banyak orang semakin mudah dalam bertransaksi.
Terlebih dengan hadirnya e-money atau uang elektronik serta beragam fiturnya. Salah satu produk yang memudahkan dalam bertransaksi adalah e-cash.
Namun perkembangan jaman juga membuka celah kejahatan baru. Terlebih, ketika tidak semua orang mengikuti perkembangan jaman alias gaptek. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab.

Salah satu contoh (yang mungkin) merupakan modus penipuan berkedok e-cash Mand*r*.

Berikut ini kronologinya :

Pada sabtu malam lalu, barang dagangan yang penulis tawarkan mendapat respon dari calon pembeli. Saat bernegoisasi mengenai harga dan ongkir, mulai terlihat kejanggalan. Yaitu, calon pembeli memberikan alamat dengan menggunakan foto e-KTP nya(1). Namun sebagai penjual yang baik, pembeli tetap dilayani dengan profesional.
Kejanggalan berikutnya adalah proses negosiasi yang berlangsung sangat singkat. Pembeli menawar, penjual memberikan tawaran baru, dan langsung diterima!(2) Awesome!
Kejanggalan berikutnya muncul ketika waktu transfer setelah deal harga hanya berselang 11 menit! (3). Deal pukul 23:16, dan bukti transfer (yang aneh) penulis terima pukul 23:27. Waktu tempuh yang  sangat singkat. Tapi penulis tetap berpikiran positif, mungkin kos si pembeli bersebelahan dengan atm.
Akhirnya pembicaraan (melalui wa) malam itu berakhir, dan di pagi hari berikutnya, penjual bersiap mengirimkan barang.
Dengan asumsi bahwa penulis memiliki bukti transfer (walaupun dengan beberapa kejanggalan), penulis pun bersiap menuju ke atm untuk mengecek apakah dana telah masuk. Namun, ternyata dana tersebut belum diterima, dan mulailah kejanggalan-kejanggalan baru bermunculan.
Pembeli mencoba mengkonfirmasi penulis, apakah uang sudah masuk. Setelah penulis konfirmasi bahwa dana belum masuk, pembeli pun menyuruh untuk melakukan pengecekan melalui fitur e-cash.
Untuk diketahui, bahwa rekening bank yang penulis gunakan belum memiliki fitur e-cash. Pembeli menggunakan rekening Mand*r* dan penulis menggunakan rekening BR* untuk menerima dana. Ketika dikonfirmasi, pembeli malah menyuruh penulis untuk melakukan pengecekan melalui ATM Mand*r*, bahkan pembeli mengirimkan screen shot panduan untuk e-cash. (Niat banget!)

Akhirnya penulis coba perhatikan step by step yang diberikan. Kurang lebih isinya begini:
1. Masukkan kartu ATM
2. Pilih bahasa inggris
3. Masukkan pin kartu ATM
4. Pilih Other Transaction
5. Pilih Electronic Money
6. Mandiri e-cash
7. Top Up
8. Masukkan kode e-cash dana (dapat dilihat di struk)
9. Masukkan no OTP dana (RP). xxxxx (dapat dilihat di struk)
10. Dana saving (yes)
11. Saving

Apakah ada yang aneh dari step di atas? Jika kita ingin mengisi ulang atau Top Up e-cash kita, maka tidak ada yang aneh. Namun, jika kita ingin mengambil dana kita sendiri, ada beberapa yang perlu dicermati.
1. Mengapa harus memilih bahasa inggris? Mungkin hal ini guna membingungkan si calon korban yang tidak begitu familiar dengan menu berbahasa inggris.
2. Mengapa harus ada kode e-cash dan nomer OTP? Nomer dan kode ini seharusnya hanya dimiliki secara pribadi dan bersifat rahasia. Kan jadi aneh ketika kita diberitahu nomer rahasia ini.
3. Dana saving? Mau disave kemana dananya? Ke si pemilik kode e-cash dan nomer OTP pastinya.
Yang ada bukan dana di rekening bertambah, tetapi malah berkurang sesuai dengan jumlah dana yang kita setujui.

Lebih aneh lagi adalah ketika lama kelamaan, pembeli semakin menggebu-gebu ingin penulis segera menyelesaikan transaksi di ATM sesuai dengan keinginan pembeli.
Bahkan selang 2 jam dari waktu konfirmasi pertama yang penulis lakukan bahwa dana belum masuk, pembeli masih menggebu-gebu meminta penulis untuk ke ATM dan segera menyelesaikan transaksi, bahkan dengan embel-embel "nanti kalau agan bingung, saya pandu dari sini". Penulis jadi berfikir, kok malah sepertinya yang butuh duit tuh si pembeli ya? Kan yang jual barang itu saya (penulis) kenapa yang menggebu-gebu sampen? Pikir saya dalam hati.

Sampai blog ini ditulis pun, pembeli masih menginginkan penulis untuk segera ke ATM, (bahkan menyarankan untuk menggunakan kartu ATM lain selain BR* yang penulis miliki). 
Penulis kasih nomer rekening apa(BR*),  eh si pembeli nyuruh ngeceknya pakai ATM apa (BC*).

Jika ada rekan-rekan yang mengalami transaksi model seperti ini, disarankan untuk berhati-hati. Karena setelah penulis cek mengenai e-cash Mand*r* di internet, transfer dana hanya bisa dilakukan jika sama-sama memiliki akun e-cash, atau setidaknya memiliki rekening Mand*r*. Tentu saja penulis tidak memiliki kedua-duanya.

M aaf tidak bisa memberikan bukti screen shot karena HP yang penulis gunakan belum memiliki fitur tersebut. 

Sekian pengalaman penulis, semoga bermanfaat agar rekan-rekan lebih berhati-hati kedepannya. SPP.

No comments:

Post a Comment

Salah kostum itu, gak selamanya petaka kok.

Bukan salah kostum, sumber: flickr.com Salah kostum merupakan peristiwa sederhana yang terkadang terjadi diluar dugaan. Peristiwa in...